Lihat juga
Jangan percaya pada mata Anda, percayalah pada telinga Anda. Ketika pasar tidak bisa memutuskan apa yang harus diperdagangkan — guncangan minyak, kekhawatiran stagflasi, atau FOMO (Fear of Missing Out) — satu pernyataan singkat dari Donald Trump bisa menjadi tali penyelamat. Indeks S&P 500 menemukan titik terbawah dan memantul dari level terendah akhir November setelah presiden AS mengatakan bahwa konflik di Timur Tengah akan segera berakhir.
Ketegangan antara AS–Israel–Iran telah menghapus sekitar $6 triliun dari kapitalisasi pasar ekuitas global. Pemenang perdagangan kemarin di Asia berubah menjadi pecundang terbesar. Dana kembali berputar ke Amerika Serikat — bukan hanya karena pasar AS adalah yang terdalam dan paling likuid, tetapi juga karena perekonomian Amerika, dengan sekitar 415 juta barel cadangan minyak strategis dan peningkatan aktivitas pengeboran seiring kenaikan harga Brent dan WTI, tampak lebih siap menghadapi guncangan energi.
Dinamika kapitalisasi pasar global
Meski demikian, JP Morgan kini mengambil posisi strategis bearish terhadap S&P 500 hingga konflik di Timur Tengah berakhir. Yardeni telah menaikkan probabilitas terjadinya guncangan pasar yang luas pada 2026 dari 20% menjadi 35%. Peluang bahwa indeks akan naik murni karena euforia kerumunan turun dari 20% menjadi 5%.
Pasar kembali terselamatkan oleh pernyataan singkat Trump, tetapi konflik bersenjata pada akhirnya berakhir di meja perundingan — dan Iran telah memperingatkan bahwa dua upaya dialog sebelumnya dengan AS, pada musim panas 2025 dan musim dingin 2026, berakhir dengan serangan. Pembicaraan lanjutan? Kecil kemungkinan.
Kinerja indeks saham AS
Tentu, Trump bisa kapan saja menyatakan bahwa tujuan AS telah tercapai dan mengatakan serangan akan dihentikan. Namun, apakah pasar akan melihat itu sebagai sebuah kemenangan jika tidak disertai dengan kapitulasi penuh dari Teheran? Kedua pihak tidak memiliki titik temu, sehingga konflik lebih mungkin berlanjut daripada berakhir. Jika demikian, kenaikan S&P 500 dari posisi terendah lokal tampak bersifat sementara.
Risiko stagflasi meningkat dengan cepat, yang akan membatasi ruang bagi The Fed dan bank sentral lainnya untuk melonggarkan kebijakan. Dan mempertahankan suku bunga tetap tinggi akan menambah tekanan pada perekonomian yang sudah rapuh akibat lonjakan harga minyak.
Di sisi lain, tiga tahun berturut-turut reli di atas 10% pada indeks S&P telah melatih banyak pelaku pasar untuk secara refleks membeli saat terjadi penurunan harga (buy the dips). FOMO (Fear of Missing Out) masih tercermin dalam harga, sehingga pemicu positif apa pun bisa memantik lonjakan pada indeks utama ini.
Secara teknikal, grafik harian S&P 500 menunjukkan bar bullish engulfing dengan rentang lebar. Peluang pergerakan lanjutan menuju nilai wajar di sekitar 6.870 semakin meningkat. Namun, arah pasar sangat bergantung pada kemampuan kubu bullish untuk melakukan konsolidasi di atas pivot kunci di 6.770. Jika itu terjadi, fokus yang bijak adalah pada peluang beli. Jika harga kembali tergelincir di bawah level support tersebut, hal itu akan menjadi alasan untuk menjual.