Lihat juga
Dolar melanjutkan aksi jual yang agresif terhadap aset berisiko, khususnya terpukul terhadap yen, di mana bank sentral melakukan intervensi valuta asing dalam skala besar.
Laporan dari AS kemarin menunjukkan perlambatan pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua. Produk domestik bruto riil hanya naik 1,5% (yoy) selama tiga bulan yang berakhir pada Juni, sementara indeks pengeluaran konsumsi pribadi inti hanya meningkat 0,1% pada Juni dibandingkan 0,3% di bulan sebelumnya. Meskipun PDB mencerminkan laju pertumbuhan ekonomi dan merupakan salah satu indikator utama kesehatannya, perlambatan ini memberi sinyal kepada pasar bahwa momentum sebelumnya mulai melemah. Indeks core PCE, yang dianggap Federal Reserve sebagai ukuran inflasi favoritnya, juga memainkan peran penting. Perlambatannya meningkatkan ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih longgar dari otoritas moneter, karena tekanan harga yang mereda mengurangi kebutuhan untuk mempertahankan suku bunga tinggi, yang pada gilirannya melemahkan daya tarik dolar. Akibatnya, mata uang AS kehilangan posisi terhadap sebagian besar pesaingnya.
Bagi euro dan pound, situasi ini menjadi angin pendorong. Melemahnya dolar mempersempit keunggulannya, memungkinkan kedua mata uang Eropa tersebut menguat, sementara EUR/USD dan GBP/USD melanjutkan tren kenaikannya. Besaran kenaikan mereka bergantung pada seberapa dalam pasar merevisi ekspektasinya terhadap suku bunga The Fed setelah rilis data tersebut.
Sesi pagi ini menjanjikan banyak berita finansial yang berpotensi kuat memengaruhi dinamika mata uang Eropa. Fokus pelaku pasar akan tertuju pada rilis data pengangguran Jerman dan indeks harga konsumen Zona Euro. Indikator makroekonomi ini secara tradisional menjadi barometer kondisi perekonomian terbesar di Eropa dan blok mata uang secara keseluruhan, sehingga cara pasar menafsirkan data tersebut akan sangat krusial.
Tingkat pengangguran di Jerman, sebagai indikator kunci aktivitas ekonomi, diperkirakan akan tetap stabil atau bahkan sedikit menurun. Sinyal positif pada segmen ini dapat menunjukkan ketahanan pasar tenaga kerja Jerman terlepas dari tantangan global saat ini. Hal ini pada gilirannya akan memperkuat kepercayaan investor terhadap perekonomian Eropa dan meningkatkan permintaan terhadap euro.
Tidak kalah penting adalah laporan mengenai indeks harga konsumen Zona Euro. Tingkat inflasi yang diperkirakan, sekalipun masih moderat, akan dicermati secara seksama oleh European Central Bank dalam merumuskan kebijakan moneternya ke depan. Inflasi yang stabil atau meningkat dapat menjadi sinyal perlunya langkah yang lebih ketat dari ECB, yang pada umumnya mendukung penguatan mata uang.
Untuk pound, fokus pelaku pasar akan tertuju pada indeks harga rumah Nationwide. Indikator ini merupakan salah satu barometer utama pasar properti dan dapat berpengaruh besar terhadap ekspektasi mengenai aktivitas ekonomi ke depan. Pertumbuhan harga yang tinggi dapat mengindikasikan permintaan konsumen yang berkelanjutan dan kepercayaan pasar yang kuat, yang pada gilirannya dapat mendorong bank sentral untuk menerapkan kebijakan moneter yang lebih ketat.
Peristiwa yang tak kalah penting adalah pidato anggota Monetary Policy Committee Bank of England, Huw Pill. Pernyataannya dapat mengungkap nuansa baru terkait pandangan anggota komite tersebut mengenai situasi ekonomi saat ini dan arah kebijakan moneter ke depan. Secara khusus, komentarnya mengenai risiko inflasi dan prospek pertumbuhan akan sangat diperhatikan.
Jika data selaras dengan ekspektasi ekonom, strategi yang lebih tepat adalah menggunakan pendekatan Mean Reversion. Jika data jauh melampaui atau jauh di bawah perkiraan ekonom, pendekatan terbaik adalah menggunakan strategi Momentum.